NASIHAT ORANG ASING DI STASIUN



Satu tahun lalu, tepatnya pada penghujung di bulan Maret. Pertemuan singkat, tetapi melekat. Sebut saja kebetulan, meski aku tak percaya ada kebetulan di muka bumi ini. Bagiku kebetulan tidak pernah ada, semesta pasti sudah berencana. Merancang setiap momen dalam cerita kehidupan.

Pukul 12.05, aku duduk dengan santai sambil memainkan gadget. Sebenarnya tak ada yang menarik, hanya saja memang itu yang bisa aku lakukan.

Suara bising begitu terasa di area Stasiun Depok Baru. Banyak orang silih berganti. Sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ada orang yang berjalan cepat seperti dikejar-kejar waktu. Beberapa lagi justru berlari, mungkin takut ketinggalan kereta.

“Dimana dia? Mengapa nggak kunjung tiba?” gerutuku sedikit frustasi.

Menunggu seseorang tak pernah menyenangkan. Bosan sering kali menyerang. Lalu, apa yang bisa kuperbuat?

Tiba-tiba, seorang pria paruh baya berusia sekitar hampir 60 tahunan menghampiriku, “Permisi dek,” sapa dia.

Aku mendongak kepala, “Iya Pak, ada apa?” tanyaku.

“Nunggu kereta arah Bogor di sini ya dek?” ujarnya.

Aku hanya mengangguk, “Boleh duduk di sampingnya dek?”

“Silahkan Pak, kosong,” aku menunjukkan ke arah tempat duduk di sampingku.

Tanpa disangka ia mengajakku berbincang. Walaupun aku kurang suka mengobrol dengan orang asing. Tetapi, saat itu tak ada pilihan selain menanggapi.

Ia memulai obrolan, “Adek, mau ke Bogor juga?”

“Oh, nggak Pak saya lagi nunggu teman,” kataku seadanya.

“Teman apa teman? Perempuan atau laki-laki temannya?” dari nada suaranya terdengar seperti tak percaya dengan ucapanku.

“Perempuan,” singkat sekali.

Setelahnya, bermula dari rasa penasaran menunggu teman. Orang yang baru saja aku kenal, lalu menasihatiku. Mulai dari keresahan kecil perihal kehidupan hingga perkara jodoh.

Dalam batinku, semesta aku ingin kabur saja. Aku tak terbiasa berbicara banyak dengan manusia yang bahkan tak kukenal namanya. Dimana temanku? Apa aku harus izin saja pergi ke toilet? Bagaimana ini Tuhan, aku seperti ditegur banyak sekali.

Pria itu, melarangku untuk berpacaran. Dia bilang, “Fokus kuliah saja dulu dek, belajar yang benar. Bahagiakan ibu bapak. Punya nilai yang bagus, kemudian cari pekerjaan.”

Tidak. Sebenarnya lebih panjang yang dijabarkan. Di balik ucapannya yang begitu panjang di pendengaranku. Di lain sisi aku justru beradu dengan pikiran-pikiran negatif, “Apa dia orang baik atau jahat, mungkinkah seorang penghipnotis atau penipu?”. Heran sekali, mengapa bisa aku berpikir begitu?

Mungkin efek aku tidak suka berbincang dengan orang yang tak dikenal. Seolah bingung mau jawab apa, aku hanya berkata “Iya,”. Tidak kurang ataupun lebih. Tak ada celah untuk berkata “Tidak,”.

Mengingat hormati orang yang lebih tua, selain itu agar cepat saja. Entah, bagaimana meski hanya terbilang singkat pria itu sangat to the point. Ia menyampaikan banyak pesan dalam waktu cepat.

Aku ingat sekali, pria paruh baya itu memakai baju kaos putih dan celana jeans. Dengan tambahan aksesoris topi bucket berwarna coklat susu.

Kerutan di wajahnya sudah sangat terlihat. Namun, ketika mendengar suaranya ia masih begitu bersemangat.

Tak berselang lama, pukul 12.15 kedatangan kereta menuju tujuan akhir Stasiun Bogor. Ia menaiki kereta itu sambil melambaikan tangan ke arahku untuk pertama sekaligus terakhir kalinya dengan senyum merekahnya.

Tidak lupa aku pun membalas lambaian tangannya. Seperti bentuk perpisahan, padahal baru saja berbagi obrolan. Meskipun kita tak saling mengenal satu sama lain.

Hingga kini, nasihatnya menjalar dalam diriku. Kerap kali aku mengingat perbincangan itu. Rasanya seperti ultimatum dari semesta untukku.

Komentar

Postingan Populer