Chapter 1 - 730 Hari
Kamu adalah sosok yang ingin kukemas justru harus kulepas dengan ikhlas.
Dua tahun lalu, saat bahagia mulai tumbuh di sisi harapan, aku mendadak terjatuh tak sadarkan.
Hari yang paling kamu nantikan tiba, namun berganti menjadi hari paling menyeramkan untukku.
"Siapa dia?" dalam batin yang bergemuruh bertanya-tanya.
"Mungkin, kakaknya." ujar seseorang di sebelahku.
Aku mengenal jelas, siapa kakak kamu. Nggak mungkin rasanya salah orang. Jelas sekali sosok perempuan di samping kamu bukan yang sedarah denganmu.
Kosong. Samar-samar kuperhatikan toga yang tergantung di kepalamu. Bersamaan semburat senyum sumringah yang tercipta.
Di tengah rasa bahagia yang tengah kamu selimuti, aku justru merasa khawatir, panik, dan bingung disaat yang bersamaan.
Perasaan yang entah darimana datang dengan borongan itu. Tak bisa bergeming lama, ada rasa penasaran yang amat besar bergerombol masuk.
"Tolong, tanyakan langsung pakai second acount." kataku pada seseorang di sampingku.
"Lin, kamu yang sabar ya." ada suara nanar dalam pelafalannya.
Rasa penasaranku kian meninggi, "Maksud kamu gimana? Apa jawaban dia?"
"Jangan kaget, dia bilang itu pacarnya." Sontak mataku buram, "Nggak mungkin, mana mungkin dia pacaran." Aku berdalih dari luka yang muncul menyebar. Menolak pembenaran, nggak mau mengakui.
Tapi, aku ingat betul bahwa kamu adalah manusia biasa. Pernyataan nggak mungkin, seolah yang tidak dipercaya.
Lemas sekali, energi yang seharian hanya rebahan itu juga nggak mampu menahan kericuhan seluruh tubuhku.
Semua akun sosial media kamu, langsung aku unfollow, aku kehilangan kendali dalam perasaan untuk bisa memiliki. Harapan tak lagi hidup, semuanya meredup.
Aku berhenti mencintaimu, sejak hari itu. Hari wisudamu, di Yogyakarta bulan November 2023. Kota yang ingin sekali kudatangi barang kali liburan, tidak lagi aku inginkan. Kini, aku enggan mendengar kota itu.
Jika terdengar, timbul rasa tidak suka, keanehan mengapa banyak orang mau kesana. Begitu didambakan, justru aku membencinya.
Atau selama punya keinginan kesana, sebenarnya aku bukan ingin ke kota Yogyakarta, tapi aku ingin melihat kamu yang waktu itu ada di sana.
Ternyata dulu, aku ingin kesana karena orang yang ada di sana itu kamu, bukan karna destinasinya.
Benar juga kata orang-orang di luar sana, jatuh cinta sungguh buta.
Padahal sudah dua tahun berlalu, tapi namamu masih kukenang selalu. Bohong rasanya kalau bilang sudah lupa, beberapa kali merenung teringat lagi wajahmu.
Jadi, apakah cinta itu benar buta? Selama waktu berputar, aku menutup mata. Nggak mau membuka mata atau hati. Aku terkena efek yang sudah cukup parah.
Gimana ya, hubungan kamu dengan dia? Aku terus berdialog. Memutar kening yang berkerut bimbang. Sudah selama ini, masih belum bisa berganti peran. Mungkinkah, batinku sudah mati? Atau ini hanya perkara waktu.
Namun, 730 hari sudah berakhir. Besok hari ke-731, dan besok lagi ke-732, roda kehidupan terus berputar, aku yang hanya diam di tempat nggak berniat berpindah, bergerak.
Ada manusia seperti aku, yang saat jalan dengan orang lain, teringat sosok lain juga. Membandingkan perlakuan yang berbeda, menilai dari pendapat yang tidak cukup bisa dianggap benar.
Maaf, aku yang sedih. Seseorang bilang, "Siapa yang menyakitimu?" Lalu, aku bergumam, "Gimana kalau aku yang justru menyakiti seseorang?"
Tidak seperti kamu, kualifikasi yang nggak mungkin pernah ada. Lagi pula, harusnya aku sadar bahwa kamu sudah lama pergi. Lari, menjauh.
- Bersambung
Komentar
Posting Komentar