Pertemuan Pertama & Terakhir
Sore hari yang cerah, situasi langit Jakarta pukul 16.00 WIB di Stasiun Sudirman. Kami bertemu untuk pertama kalinya, dan mungkin terakhir. Nanti akan aku ceritakan mengapa beberapa bagian cerita tak bisa dilanjutkan dan harus dihentikan.
Kaos putih santai dengan balutan kemeja kotak-kotaknya dan celana jeans langsung memusatkan mataku. Aku melambaikan tangan dari kejauhan. Berlari menujunya. Tepat di sini, di depannya.
"Hai, Mahesa!" sapaku agak kikuk
"Hai Cempaka, kok bisa langsung tau?" Katanya.
"Masa sih nggak tahu, sudah kenal lama." Jawabku santai.
"Iya, kita sudah kenal lama tapi baru ketemu sekarang."
"Ayo, cepetan, Sa!" Perintahku langsung berjalan menuju stasiun. Padahal itu pertemuan pertama, entah mengapa tak ada rasa canggung berlebihan.
"Mau ke mana kita?"
"Kota Tua, di sana ramai banget loh, banyak jajanan, kita kulineran."
Dalam batinku: "Mahesa, mari nikmati hari ini, hanya hari ini saja, mungkin tidak ada hari lain. Aku akan memberikan senyum terbaikku. Di pertemuan pertama dan terakhir ini. Seperti cerita pendek yang aku tulis sebelumnya, impian mengelilingi Kota Jakarta bersama kamu ternyata bukan ilusi, bukan rekayasa, terwujud."
“Nanti, aku boleh nggak telepon kamu sesekali?”
Entah, harus menjawab apa, namun sulit mengatakan tentang apa yang sebenarnya ingin aku lakukan, “Mau bahas apa?” Kataku akhirnya.
“Apa saja, jangan hilang lagi ya!” Ucapan Mahesa membuat aku terlihat seperti seorang manusia jahat yang tidak punya hati.
“Aku jawab, asal PENTING!” aku menekankan kata penting agar dia memahami, kalau aku tak pernah semudah yang dia kira.
“Ke mana saja, Cempaka? Kok tiba-tiba kamu nggak bisa dihubungi?”
“Nomor kamu kehapus.” Alibiku.
“Kehapus gimana?” Tanya Mahesa agak bingung.
“Aku gatau, handphone aku suka gitu deh, hapusin nomor.”
Mahesa hampir tidak percaya, “Kok aneh bisa hapus nomor orang?”
Aku bingung dan mengalihkan pembicaraan, “Kamu mau kemana lagi? Biar aku anterin?
Bukan kehapus, Mahesa memang sengaja aku blokir dan beberapa waktu belakangan aku buka. Salah sekali, kalau berharap bisa berkabar kembali. Aku hanya ingin menghapus daftar blokir di handphone-ku, agar aku tidak pernah tau lagi nomornya, namun siapa sangka dia menghubungi Cempaka lagi.
Berawal dari, “Apa kabar?” dan dia bilang, “Aku lagi di Jakarta, Cempaka. Ketemuan yuk!” Momentum selangka ini haruskah aku biarkan berlalu? Perjalanan pulau Kalimatan sampai di Jakarta bukan perjalanan yang dekat. Dengan harapan cerita yang kutulis ada pertemuan pertama dan terakhir, aku mengiya-kan sebagai Tour Guide-nya keliling Jakarta, menaiki transportasi yang baru pertama kali dia naiki. Mengukir kenangan demi kenangan yang akan segera berakhir.
“Besok kita, kemana lagi?” Pertanyaannya membungkam diriku. Besok? Apa masih ada waktu lainnya?
“Kamu harus hafal, Mahesa. Gini caranya…” Aku mengulang-ulang ingatannya untuk mempelajari cara membaca rute Computterline Jabodetabek, seolah aku berharap dia bisa menghafal cepat tanpa aku.
“Sekarang aku mau tes kamu?”
“Kayak ujian aja, aku sampai di tes.”
“Biar kamu tau caranya.”
“Kalau mau ke Bekasi, di peron berapa naiknya?”
“Peron 3 dan 4.”
“Hmm Bogor di peron berapa?
“11 dan 12?”
“Benar, udah pinter banget kamu. Sekarang kamu bisa kemana-mana sendiri.”
“Emang kamu mau kemana, Cempaka?”
“Ya, biar kamu tau aja.”
“Apa alasan kamu ke Jakarta, Mahesa?”
“Buat pelatihan AI, kesempatan yang bagus banget sekalian aku belajar dan nanti aku bakal mengajar di sana. Sekalian aku ingat kamu, aku coba hubungi siapa tahu kamu aktif. Aku mau keliling Jakarta, cuma nggak ada temannya.”
Ternyata alasan dia ke sini karena pekerjaan. Aku cukup kecewa, sedikit atau banyak? Mendengar penuturannya, ambisinya, semua impiannya. Terhenyak dan memilih diam.
“Kamu mau ke gunung mana lagi, Cempaka? Ajak aku dong! Nanti kita naik gunung bareng.”
“Kenapa kamu mau naik gunung? Kamu nggak harus suka apa yang aku suka.”
“Aku mau coba sesuatu yang baru.”
“Alasannya apa?”
“Mau coba naik gunung.”
Lagi. Aku nggak suka jawabannya. Mungkin benar menurunkan ekspektasi harus dilakukan.
Di tengah perjalanan itu, aku sedikit melamun.
"Kamu kenapa Ra? Kok diem aja dari tadi?"
"Gapapa, energi aku habis, maklum introvert."
"Aku kira kamu kenapa, Ra."
Aku tidak jujur, memikirkan bahwa betapa anehnya jenis hubungan kami, tidak diketahui siapapun, tidak diakui siapapun, namun terlalu dekat dan akrab. Kami berdua seolah menutupi dari orang terdekat kami masing-masing. Dia dan aku. Sampai akhirnya... aku mundur untuk memilih asing saja.
Kamu membuat aku tidak bisa memilih, bingung, bimbang, kanan atau kiri? Pilihan yang diriku saja sudah buntu. Aku memilih pergi, bukan karena jarak kita yang terbentang jauh. Tapi, karena aku tidak pernah bisa memprediksi di mana sebenarnya tempat aku dipersilakan. Seberapa jauh, seberapa penting, aku tidak menemukan jawaban atas kekeliruan ini sejak lama. Berkat pertemuan itu, aku menyadari tempatku memang tidak ada di sana. Aku hanya selalu menjadi tempat singgah, sebuah tempatmu meneduh sementara.
Lalu, beberapa waktu lalu kamu kembali mengirim pesan dengan nomor berbeda. Aku tidak membalas, sebuah kutipan yang kubaca, "Kalau seseorang nggak bisa membuat akhir cerita, biar kamu saja yang membuat akhirnya." Aku mengikuti saran itu. Aku mengakhiri semuanya, tanpa tapi dan kecuali.
Komentar
Posting Komentar