Patah Hati, Apa Hanya Putus Cinta Saja?
Seindah-indahnya pelangi, ia tetap akan pergi.
Sepotong kata yang bagiku punya makna berbeda. Beberapa hari lalu, seseorang bertanya sampai pada pertanyaan, "Kalau gak pernah pacaran berarti gak pernah patah hati."
Aku terdiam. Ingin menjawab "Pernah", namun urung aku lakukan. Apakah patah hati hanya berkaitan dengan putus cinta? Kalau ya, maka aku tak bisa juga menyebut ini patah hati.
Sebelumnya, aku pun mendapatkan ungkapan yang serupa. "Kamu enak ya gak pernah patah hati," ujarnya.
Seperti mengingat perkataan itu, aku kembali dibuat bungkam. Apakah semua orang berpikir patah hati hanya berhubungan dengan putus cinta?
Jadi, perasaan kehilangan yang selama ini aku rasakan bukan bagian dari patah hati? Mencari-cari sosoknya dalam diri orang lain. Menulis rentetan kata yang tak kunjung usai. Apa semua itu berbeda dari patah hati?
Jejaknya begitu terbayang, sebab ia tak punya kenangan buruk seperti mantan. Semesta pasti tau, sering kali aku membandingkan diri orang lain dengan dirinya.
10 tahun berlalu, menemukan yang setara dengan dirinya hampir kupikir tidak mungkin. Namun, 3 tahun lalu aku bertemu manusia yang menurutku tingkatnya setara dengannya.
Seolah mimpi, seseorang itu ternyata hanya singgah untuk ke pelabuhan selanjutnya. Dia hanya menepi sebentar, sedangkan aku berharap ia menetap.
Berharap?
Tidak mau lagi aku lakukan, perasaan adalah tembok tinggi yang berusaha kupertahankan.
Jakarta, 5 Maret 2023
Komentar
Posting Komentar