A Story Behind The Problems,,
Kemarin ketika dunia seolah memanjakanku, aku terhenyak tanpa minat. Jika saja aku paham, mengapa dunia begitu lucu?. Tapi aku tidak se-peka itu, tertawa dan tersenyum bagai klise panjangan.
Bersama gulita kini aku terdiam, bukan hanya kali ini tapi aku memang lebih sering diam. Tadi sore di bawah kalbu, seseorang berkata padaku: "Bahwa ia punya masalah yang bahkan ia sendiri tidak mengerti".
Setiap sedih ia selalu berkata demikian, aku sendiri tidak tau apa sebenarnya masalahnya. Kataku: "Dunia memang selucu itu kawan, kadang kita sendirilah yang justru menertawakan diri kita sendiri".
Ia hanya diam memandangku.
Aku balik memandangnya sambil berkata: "Terkadang manusia bukan butuh solusi atas masalahnya, ia hanya ingin didengar atas masalahnya." Ujarku datar.
"Maka ceritalah jika itu menyakitkan, tapi diam saja jika orang lain tidak layak tau" lanjutku tersenyum ke arahnya.
Ia diam saja, mata sayunya memandang lurus ke depan.
Kemudian entah tekad dari mana aku berujar begitu panjang.
"Percayalah, jika masalahmu begitu berat. Kau hanya perlu melihat kebawah bagaimana ada banyak orang lain yang punya masalah lebih berat darimu."
"Mungkin akan sangat sulit bagimu menerima, tapi hidup memang sejahat itu. Saat kita menangis karena takdir, walau takdir diam saja melihatnya? Tak berguna dan malah kita yang terlihat bodoh."
"PERCUMA!! kata yang pantas saat kita meraung-raung, menangis tersedu-sedu tapi semuanya tetap tak'kan berubah. Aku memasukan itu dalam daftar hidupku. Masa lalu yang buruk tinggalkan saja, tidak akan mengubah apapun."
"Sepahit apapun pil obat, kalau sakit tetap harus diminum. Itu pilihan kawan, mau hidup atau mati. Kita sendiri yang memilih, antara simple atau ribet itu semua pilihan."
"Setiap masalah pasti ada solusinya, entah datang dengan cepat atau lambat. Jangan bilang kepada seseorang "Kau tidak akan mengerti bagaimana perasaaanku" karena sejatinya kita sendiri pun tidak pernah benar-benar mengerti diri kita sendiri. Buktinya Terkadang kita masih mengais sesuatu yang menyakitkan."
"Kirimkan saja masalahmu dengan menerimanya, tidak ada yang lebih baik dari menerimanya. Jika kau memang ingin menangis, mengumpat atau memaki apapun itu lakukan saja jika itu menenangkan hatimu."
"Suatu hari ada fase dimana akhirnya kita mampu mengerti. Mengapa Tuhan justru menitipkan kerumitan itu padamu bukan manusia lain saja?."
"Jangan terlalu menganggap bahwa masalahmu begitu besar dari orang lain. Sebab kita tidak pernah tau apa yang benar-benar terjadi. Hanya menebak dan menerka tapi tidak tau yang sebernarnya."
"Tutup matamu dan rasakan bahwa kini semua masalah itu tidak pernah ada dalam hidupmu. Begitulah caraku melupakan kejamnya hidup, tutup mata lalu rasakan bagian lain yang bisa membuat kita tertawa dan tersenyum".
Mengakhiri ucapanku aku bangkit dan melangkah pergi dari sampingnya, berjalan menjauhinya.
"Makasih" Ujarnya pelan setelahnya, namun aku masih bisa mendengarnya.
Aku hanya tersenyum sekilas dibaliknya.
🌿Begitulah kawan, Masalah itu banyak apalagi masa lalu. Tapi seburuk apapun semua itu tak'kan bisa kembali seperti semula. Kalau kita terus menyesali, diri kita sendirilah yang justru tertekan. Mungkin menerima adalah pilihan terakhir dan terbaik dari sebuah masalah, baik di masa lalu atau mungkin di masa depan nanti.
Bekasi, 6 Agustus 2019
Tertanda:
🌼erlinda
Bersama gulita kini aku terdiam, bukan hanya kali ini tapi aku memang lebih sering diam. Tadi sore di bawah kalbu, seseorang berkata padaku: "Bahwa ia punya masalah yang bahkan ia sendiri tidak mengerti".
Setiap sedih ia selalu berkata demikian, aku sendiri tidak tau apa sebenarnya masalahnya. Kataku: "Dunia memang selucu itu kawan, kadang kita sendirilah yang justru menertawakan diri kita sendiri".
Ia hanya diam memandangku.
Aku balik memandangnya sambil berkata: "Terkadang manusia bukan butuh solusi atas masalahnya, ia hanya ingin didengar atas masalahnya." Ujarku datar.
"Maka ceritalah jika itu menyakitkan, tapi diam saja jika orang lain tidak layak tau" lanjutku tersenyum ke arahnya.
Ia diam saja, mata sayunya memandang lurus ke depan.
Kemudian entah tekad dari mana aku berujar begitu panjang.
"Percayalah, jika masalahmu begitu berat. Kau hanya perlu melihat kebawah bagaimana ada banyak orang lain yang punya masalah lebih berat darimu."
"Mungkin akan sangat sulit bagimu menerima, tapi hidup memang sejahat itu. Saat kita menangis karena takdir, walau takdir diam saja melihatnya? Tak berguna dan malah kita yang terlihat bodoh."
"PERCUMA!! kata yang pantas saat kita meraung-raung, menangis tersedu-sedu tapi semuanya tetap tak'kan berubah. Aku memasukan itu dalam daftar hidupku. Masa lalu yang buruk tinggalkan saja, tidak akan mengubah apapun."
"Sepahit apapun pil obat, kalau sakit tetap harus diminum. Itu pilihan kawan, mau hidup atau mati. Kita sendiri yang memilih, antara simple atau ribet itu semua pilihan."
"Setiap masalah pasti ada solusinya, entah datang dengan cepat atau lambat. Jangan bilang kepada seseorang "Kau tidak akan mengerti bagaimana perasaaanku" karena sejatinya kita sendiri pun tidak pernah benar-benar mengerti diri kita sendiri. Buktinya Terkadang kita masih mengais sesuatu yang menyakitkan."
"Kirimkan saja masalahmu dengan menerimanya, tidak ada yang lebih baik dari menerimanya. Jika kau memang ingin menangis, mengumpat atau memaki apapun itu lakukan saja jika itu menenangkan hatimu."
"Suatu hari ada fase dimana akhirnya kita mampu mengerti. Mengapa Tuhan justru menitipkan kerumitan itu padamu bukan manusia lain saja?."
"Jangan terlalu menganggap bahwa masalahmu begitu besar dari orang lain. Sebab kita tidak pernah tau apa yang benar-benar terjadi. Hanya menebak dan menerka tapi tidak tau yang sebernarnya."
"Tutup matamu dan rasakan bahwa kini semua masalah itu tidak pernah ada dalam hidupmu. Begitulah caraku melupakan kejamnya hidup, tutup mata lalu rasakan bagian lain yang bisa membuat kita tertawa dan tersenyum".
Mengakhiri ucapanku aku bangkit dan melangkah pergi dari sampingnya, berjalan menjauhinya.
"Makasih" Ujarnya pelan setelahnya, namun aku masih bisa mendengarnya.
Aku hanya tersenyum sekilas dibaliknya.
🌿Begitulah kawan, Masalah itu banyak apalagi masa lalu. Tapi seburuk apapun semua itu tak'kan bisa kembali seperti semula. Kalau kita terus menyesali, diri kita sendirilah yang justru tertekan. Mungkin menerima adalah pilihan terakhir dan terbaik dari sebuah masalah, baik di masa lalu atau mungkin di masa depan nanti.
Bekasi, 6 Agustus 2019
Tertanda:
🌼erlinda
Komentar
Posting Komentar