Short Story Dreams,,
Aku pernah bertukar pesan pada semesta. Bertuliskan: mengapa setiap aku bermimpi engkau membuat mataku rabun, seolah aku tidak diberi untuk melihat mimpiku sendiri.
Berlarian, namun tiap kali aku berhenti disaat itu pula mimpiku kembali datang. Bumi serasa sedang mempermainkan aku. Tetapi tidak pula aku terkulai menarik diri, dalam renungan aku selalu yakini takdir baik 'kan menghampiri nanti. Mungkin esok, esok lagi atau bahkan tidak sama sekali.
Pernah suatu hari aku melukis kata pada selembar kertas putih kosong di atas meja tua. Aku bilang padanya, bahwa jikalau mimpi itu palsu tolong cepat sadarkan aku. Sebab, aku tak perlu tertidur terlalu lama untuk sebuah khayalan semata.
Tidak berselang aku pun memberanikan diri bangun. Membuka kembali skema mimpiku, dan.. masih seperti awal aku membuatnya meski terlihat bercak noda kuning. Sepucuk tingkatan tangga dengan pencapaian yang ingin aku raih.
Bukan, bukan sekedar tentang bumi. Salah bila orang berkata demikian. Aku tak begitu tertarik akan kehidupan yang fana ini, aku hanya tengah berusaha berjuang agar tidak menjadi manusia yang dihardik oleh bumi.
Tidak berselang aku pun memberanikan diri bangun. Membuka kembali skema mimpiku, dan.. masih seperti awal aku membuatnya meski terlihat bercak noda kuning. Sepucuk tingkatan tangga dengan pencapaian yang ingin aku raih.
Bukan, bukan sekedar tentang bumi. Salah bila orang berkata demikian. Aku tak begitu tertarik akan kehidupan yang fana ini, aku hanya tengah berusaha berjuang agar tidak menjadi manusia yang dihardik oleh bumi.
Lambat laun aku lalui hari-hari berikutnya, tidak terasa aku hampir sampai di penghujung. Ya, kata hampir itu bagaikan sandaran ringan di bahuku. Peristiwa malam-malam yang amat ku takuti ketika beranjak tidur.
Mimpiku menghilang, lagi dan lagi aku terbuai mimpi buruk. Aku katakan pada semesta, tolong beri aku satu kesempatan lagi untuk memiliki mimpi itu. Tetapi, tidaklah mudah aku lalui rintangan ini. Kerikil-kerikil kecil selalu saja mengikutiku.
Sampai akhirnya aku memilih untuk mengalah, tentu saja bukan karena aku merasa lemah, bukan karena aku menyerah, dan juga bukan karena aku lari. Aku hanya merasa, ketika suatu hal yang amat aku ingini datang apa yang akan aku lakukan?.
Aku terdiam, sembari terduduk aku mulai memikirkannya. Dan saat itu aku paham semesta sedang mengatur skema yang terbaik untukku, aku hanyalah pembuat mimpi yang baik tapi bukan penentu atas mimpiku.
Aku terdiam, sembari terduduk aku mulai memikirkannya. Dan saat itu aku paham semesta sedang mengatur skema yang terbaik untukku, aku hanyalah pembuat mimpi yang baik tapi bukan penentu atas mimpiku.
Tibalah aku di tempat pemberhentian itu, suatu tempat yang semesta telah titipkan untukku. Aku berhenti di penghujung itu, di ujung dimana akhirnya aku mengerti tentang cerita mimpi yang ku buat. Dan aku hanya bisa mensyukuri atas apa yang semesta telah karuniai padaku, hari ini dan hari berikutnya...
🌿Begitulah,,,
Sebab, terkadang sesuatu yang amat kita inginkan belum tentu baik untuk kita. Sebaliknya, boleh jadi yang kita anggap itu buruk malah itulah yang terbaik untuk kita:-D.
Sebab, terkadang sesuatu yang amat kita inginkan belum tentu baik untuk kita. Sebaliknya, boleh jadi yang kita anggap itu buruk malah itulah yang terbaik untuk kita:-D.
Bekasi, 6 Juli 2019
Tertanda:
🌼erlinda
🌼erlinda
Komentar
Posting Komentar